Cerita tentang cara belajar dan bekerja sebagai developer, dari sebelum AI hadir sampai sekarang.
Ada masa ketika membuat satu halaman web saja terasa seperti merakit sesuatu dari banyak potongan kecil. Kita mulai dari HTML untuk menyusun isinya, lalu CSS agar tampilannya rapi. Setelah itu, kita belajar JavaScript ketika tombol atau formulir perlu merespons pengguna. Pertanyaan berikutnya pun muncul: data disimpan di mana? Bagaimana halaman bisa menampilkan data yang berbeda untuk setiap orang? Dari situ saya mulai belajar bahasa pemrograman di sisi server seperti PHP, mengenal database, dan memahami cara web server bekerja.
Dulu, proses belajarnya pelan-pelan. Satu bagian dipahami, baru lanjut ke bagian berikutnya. Kalau fitur tidak berjalan, saya membaca pesan error, melakukan debugging, mengecek data yang dikirim formulir, lalu menelusuri prosesnya di server. Kadang memperbaiki satu masalah memakan waktu lebih lama daripada membuat fitur baru. Namun, dari proses itulah saya belajar bagaimana bagian-bagian aplikasi web saling terhubung.
Sekarang situasinya berbeda. Saya bisa menjelaskan fitur yang ingin dibuat kepada AI dan dalam beberapa saat sudah mendapat draf kode. Kalau ada fungsi yang belum saya pahami, saya bisa meminta penjelasan. Saat mentok mencari bug, AI bisa membantu menunjukkan bagian yang perlu diperiksa. Sebagai developer, saya merasakan proses pengembangan memang menjadi lebih cepat.
Meski begitu, kode yang cepat dibuat belum tentu siap dipakai. Misalnya, ketika AI membantu membuat formulir pendaftaran, saya tetap perlu mencoba apa yang terjadi saat kolom dikosongkan, data diisi dengan format yang salah, atau pengguna tanpa izin mencoba membuka halaman tertentu. Kodenya juga perlu dibaca: apakah alurnya sesuai kebutuhan, apakah ada celah, dan apakah orang lain masih bisa memahaminya saat fitur itu perlu diubah?
Buat saya, AI adalah rekan kerja, bukan pengganti developer. Ia membantu mengerjakan dan memikirkan banyak hal, tetapi keputusan akhir tetap ada pada kita. Produk yang dipakai orang harus tetap kita verifikasi, mulai dari kualitas kode sampai pengalaman penggunanya.
Kalau Sudah Ada AI, Web Developer Masih Dicari?
Pertanyaan ini wajar. Kalau website sederhana bisa dibuat jauh lebih cepat, kebutuhan terhadap developer mungkin terasa akan berkurang. Sebagian pekerjaan dasar memang semakin mudah dilakukan dengan bantuan alat. Namun, membuat halaman yang terlihat selesai berbeda dengan membangun aplikasi yang harus terus berjalan, menyimpan data dengan benar, terhubung ke layanan lain, dan aman dipakai banyak orang.
Data pasar kerja memberi gambaran yang lebih berimbang. Bureau of Labor Statistics di Amerika Serikat memproyeksikan pekerjaan web developer dan digital designer tumbuh 5% selama 2025–2035. Lembaga itu juga menyebut bahwa AI dan alat pengembangan web dapat memperlambat pertumbuhan karena sebagian tugas dasar menjadi lebih mudah dikerjakan. Sementara itu, World Economic Forum menempatkan software dan application developer di antara peran yang diperkirakan tumbuh cepat hingga 2030. Angka dari AS dan proyeksi global ini tidak bisa langsung dianggap sebagai gambaran pasar kerja Indonesia.
Menurut saya, nilai developer semakin terlihat dari kemampuannya menyelesaikan persoalan nyata. Menulis kode tetap penting, tetapi memahami kebutuhan, memilih solusi, dan memastikan aplikasi dapat diandalkan menjadi bagian yang semakin menentukan.
Skill Apa yang Tetap Berharga?
Pemahaman dasar tentang cara kerja web tetap penting. Kita perlu tahu apa yang terjadi saat browser meminta halaman, bagaimana frontend berkomunikasi dengan backend, serta bagaimana data dibaca dan disimpan. Tidak perlu menghafal setiap sintaks, tetapi kita harus cukup paham untuk membaca kode dan menyadari ketika ada yang tidak beres.
Begitu juga dengan kemampuan bertanya dan memecahkan masalah. Permintaan seperti "buat sistem absensi" terdengar sederhana sampai kita bertemu kasus shift malam, lokasi kerja berbeda, izin, atau koneksi yang terputus saat karyawan melakukan presensi. AI bisa membantu menulis kodenya, tetapi kita tetap perlu memahami aturan dan menentukan bagaimana sistem seharusnya bekerja.
Karena itu, debugging, pengujian, keamanan, dan komunikasi dengan pengguna maupun tim tetap berharga. Dalam survei Stack Overflow 2025, lebih banyak responden yang tidak percaya pada akurasi keluaran AI (46%) daripada yang percaya (33%). Itu bukan ukuran kemampuan semua alat AI, tetapi menjadi pengingat bahwa hasil AI tetap perlu diperiksa.
Vibe Coding dan Cara Tetap Relevan
Saya paham mengapa vibe coding menarik. Ada kepuasan tersendiri ketika ide yang tadinya hanya berupa beberapa kalimat segera berubah menjadi aplikasi yang bisa diklik. Cara ini juga membuat orang lebih berani mencoba membangun sesuatu.
Namun, ketika aplikasinya dipakai sungguhan, kita harus tahu apa yang dibuat AI. Jika data tertukar, login bisa dilewati, atau perhitungan salah, kita perlu mampu mencari penyebabnya. Itu sebabnya saya tetap menganjurkan belajar pondasi web. Dulu kita mempelajari HTML, CSS, JavaScript, dan bahasa backend satu per satu sebelum mampu membuat banyak hal. Sekarang AI memungkinkan kita membangun lebih cepat sambil belajar, asalkan kita tidak berhenti pada tahap menyalin hasilnya. Baca kodenya, tanyakan mengapa solusi itu dipilih, ubah bagian kecilnya, lalu amati akibatnya.
Untuk naik level, saya akan mulai dari proyek nyata yang cukup kecil untuk dipahami sampai selesai. Misalnya membuat formulir dengan validasi, menyimpan datanya, lalu menampilkannya sesuai hak akses pengguna. Setelah AI membantu membuatnya, coba alur normal dan berbagai kondisi yang mungkin gagal. Periksa kode sebelum dipakai dan tambahkan tes otomatis pada bagian yang rawan rusak saat ada perubahan. Ketika menunjukkan proyek itu kepada orang lain, jelaskan masalah yang diselesaikan dan alasan di balik keputusan teknisnya.
Kesimpulan
AI sudah mengubah ritme kerja web developer, dan menurut saya perubahan itu bisa dimanfaatkan. Kita dapat menghabiskan lebih sedikit waktu untuk memulai dari halaman kosong dan lebih banyak waktu untuk memikirkan apakah solusi yang dibuat benar-benar berguna.
Web developer masih dibutuhkan, tetapi cara kita bekerja juga perlu berkembang. Pahami dasarnya, gunakan AI sebagai rekan kerja, lalu tetap uji dan pertanggungjawabkan hasilnya. Kode bisa dibuat lebih cepat; kepercayaan pengguna terhadap produk tetap harus kita bangun sendiri.
Sumber dan referensi
- U.S. Bureau of Labor Statistics — Web Developers and Digital Designers. Proyeksi pekerjaan 2025–2035 dan dampak alat pengembangan web.
- World Economic Forum — The Future of Jobs Report 2025, Jobs Outlook. Proyeksi peran software dan application developer hingga 2030.
- Stack Overflow — Developer Survey 2025: AI. Pandangan responden mengenai akurasi keluaran AI.